nada kesendirian, gemuruh kata kesunyian
Tiba-tiba saja aku teringat,
kala dulu aku menapak jalan itu
Hari cerah,
dan raksasa-raksasa hijau tinggi kanan kiriku
bergiliran menyapa riuh renyah
Selamat datang, pejuang muda
Aku hanya tersenyum kaku
Di sana, tak jauh dari pijakku, terbentang
spanduk biru berbalut arogansi
Selamat datang putra putri terbaik bangsa
Duhai Bapak, Ibu,
putramu telah sampai di sini
putramu akan ditempa di sini
Kini,
di boulevard itu kembali aku berdiri
tidak sendiri
wajah-wajah baru
wajah-wajah haru
lalu lalang tak peduli
Dan setelah enam tahun aku
selalu menyusuri kerindangan yang sama,
raksasa-raksasa hijau itu tak lagi menyapa
pejuang muda
padaku