Siang
Anila kembali menyulam awan-awan yang berarak
di langit bumi yang tenang

Beburungan yang terbang dalam ve
riuh gaduh bersorak setelah berak
pada pucuk-pucuk pohon perak

dan Anila masih saja khusyuk

Gludhuk, tak tahan tak gemeretuk
menunggu dengan omel tak sabar di barat daya
rajutanmu tak cukup kelabu, katanya

Anila memburu, semakin dibuat sibuk

Katak di selokan bersahutan menembang rindu
ketika cirrus dan cumulus semakin padu
merangsek menutup layar biru

Hujan jatuh seolah dari kran