nada kesendirian, gemuruh kata kesunyian
Kurung aku dalam gua suwung
hingga negeri ini serasa tanpa riuh raung
genderang perang
serta denting girang lokananta
Sejenak tinggalkan aku,
biarkan kawanku hanya mentari
sorot-sorotnya yang hangat, yang terpasung
oleh celah-celah batu-batu
Harapku hirupan dan helaan udara-udara tipis nanti
kian memacu merahnya darah
mencari jalan dan memberi senyawa pada
gelombang-gelombang otak yang jeda beresonansi
Hingga akhirnya memaksa tangan ini mampu
menggoreskan puisi atau menuliskan warna,
bercerita tentang Dia
atau berlagu tentangmu,
berpikir tentang kita, tentang dunia
dan masa depan
Maka ketika aku telah merasa sedikit cukup,
telah merasa sedikit menjadi manusia
aku akan turun gunung
membuka diri
bercinta juga beranak pinak
bekerja juga menghamba
Dan ketika saat itu tiba,
berdirilah di sisiku