Kukenal betul harmoni itu
kala kau perdengarkan dengan lembutmu

Tak ubahnya tetes-tetes embun
yang memberi riak pada telaga sunyi
Mengusik, namun mempersembahkan nafas
untuk jiwa-jiwa tanpa daya

Seperti gelombang-gelombang berinterferensi
yang menguatkan sekaligus melemahkan
berganti-gantian

Seperti hujan dan refraksinya
yang mengusik senja tenangmu
lantas melahirkan keindahan pelangi
pada layar langit jingga

Ah, simalakama!

Ya, kukira seperti itulah
Lebih sederhana untuk kau mengerti

Sungguh, sebuah dilema