Di kelor ini aku adalah entung
Pada rumah daun ini aku bergelayutan,
dengan tetes-tetes embun aku berkawan

Kadang angin-angin yang semilir
datang menengokku,
Hanya sekedar menggesek dedaunan
dan seringkali mengabarkan berita cuaca
Membawa oleh-oleh impian-impian
tentang musim berganti

Pun aku dapat teramat benci pada angin-angin itu,
kala mereka hanya membawa dingin
dan topan badai kerinduan
Kadang sekejap,
kadang layaknya tak berkesudahan
Lantas meninggalkanku beku dalam ragu

Meski demikian, kawan
Angin-angin itu mengajariku satu hal
Sesungguhnya, ibu dari derita adalah menunggu
Menunggu kabar-kabar, berita-berita
menunggu dalam rindu
menunggu tuk menjadi kupu-kupu

Dan iri ini, sungguh terpatri untuk mereka
Mereka yang bebas merdeka
Mereka yang terlahir untuk mengembara

Sungguh, suatu saat nanti kan ku buktikan
kepada angin aku kan berkendara dan berteriak,
Dunia, tak selebar daun kelor!