nada kesendirian, gemuruh kata kesunyian
Seratus lima puluh kilometer kutempuh
gunung tinggi berkelok kulalui
Aku mencari jawaban di santolo
Aku melihat ribuan hektar sawah hijau
dibangun dalam ketinggian yang menyeramkan
membiarkanku terkurung dalam kekaguman
Aku melihat sosok-sosok kecil dalam balutan putih biru
berlarian menyongsong harapannya
dengan senyuman tulus, mengajakku turut serta
Aku melihat hamparan hijau teh
dari puncak ke lembah, dari gunung ke gunung
menyapaku dalam nada yang mengerdilkan
Aku melihat puluhan perahu-perahu
tertambat seolah lelah
mengejekku yang terlalu lama berhenti melangkah
Aku melihat permadani pasir putih
Entah berapa bulir terserak disana
mengingatkanku pada dosa-dosa dunia
Aku melihat kelip bintang-bintang dalam gelap malam
sinarnya menempuh perjalanan sedemikian jauh
meneriakkan ilmu akan keberadaannya
Mengapa?
Untuk apa berjuang sedemikian rupa?
Untuk apa dunia dihamparkan dan aku diciptakan?
Ironis
Tak perlu jauh-jauh
Mungkin, sedari dulu,
nuraniku, walaupun sedikit
telah menemukan jawabannya
Namun, mengapa aku berpaling?