dan keheningan subuh,
turut menggurat imaji
dirimu, dalam hangat semburat cahaya pagi

kehangatanmu yang menyeluruh
membungkus dari jauh,
memeluk sisa-sisa serpihan mimpi,
lantas mendorongnya berarak pergi

raga ini pun terduduk, tersentuh
mencoba meraba jiwanya yang luruh,
yang hanyut, dalam buai kasih yang penuh

engkau membawaku kembali dalam utuh

dan tak jua lama,
segaris mata telah berganda,
segumpal gemuruh hati,
sebentuk lengkung, sesungging senyum murni,
mengiringi barisan pesan singkat
yang kubaca darimu, malaikat

nafas ini pun berujar lirih,
terima kasih,
engkau mengajakku terjaga
dan menghamba kembali pada-Nya

subuh tadi




(untukmu, yang selalu mengundangku sahur bersama)