Di batang lehermu kulihat lubang
dua centi menganga
sedikit menembus tenggorok
memberi merah
pada putih kuning yang lembut

Letih sembilu pilu di awal hari
kudengar dari desah erangmu,
terpancar dari matamu yang tipis segaris
terkatup sebelah
tersayat merah oleh perih darah

Pagi ini, kau ajak serta sisa bara yudha
lantas kau sapaku dalam murung
yang melantakkan sepi ruang rindu yang mengurung

Ya, kau menang,
kataku

Kau sudah membuatku mengerti
sejatinya kuning memang warna dewa-dewi
kuning adalah keagungan
Dan aku telah beku, kalah, luluh
karena sosokmu jauh
begitu jumawa
satria

Kau kembali dari perang,
setelah kau rebut kembali jengkal-jengkal kuasa
yang terampas

Dan di ambang pintu ini,
aku malu
sungguh,
aku malu

Aku menyebutmu bodoh
Namun kegigihanku, kekuatanku,
tak lebih tajam dari satu setengah centi cakarmu
yang dengan rendah hati
kau coba tuk membuatnya selalu tersembunyi