October Rain
Ada apa dengan sore dan rintik
Tiap kali ada untuk bersua
rindu mewujud dua jiwa
menyusun dirinya larik demi larik
Ada apa dengan aku
hingga harus membuatmu menanti
untuk lantas mengenangku
dalam wajah hujan sore hari
Ah, sepi sungguh
Fairy
Mungkin,
dahulu lekat namamu Nawangwulan
sebelum awan-awan beriring berarakan
hingga menutup jalanmu ke langit
kembali ke bulan peraduan
Mungkin,
dahulu engkau peri atau bidadari
dengan segala gemericik gemintang
berpendar perlahan lantas larut
dalam jejak ringan nan lembut
langkah dan sentuhan jemari
Mungkin,
sejatinya tiada kepantasan bagiku
mereguk segala kemewahan rasa
dan kasih itu
Namun pasti,
kini dan nanti,
keindahanmu
telah dititipkan kepadaku
Kan kujaga,
Adinda dewi
Ciwidey
Bukan hening yang kucari di putih hamparan ini
Bukan pula bening yang beriak pada biru gradasi
dan terpanggang hangat mentari
Kataku,
pada segala yang mengerubung
Di tepian tanah kapur dudukku
Semilir sepoi segera bersenandung cerita
tentang daun-daun gugur di peluk pohon sembilu pilu
tentang pudar warna semesta,
cinta, bumi, dan manusia
Desir-desirnya bergema
menggulung angan-angan dan lamunku
yang merayap mengejar kedalamannya
hingga terperosok pada licin batu-batu
Maka aku terbangun di puncak hembusan angin
ketika sontak dia menerpa bertanya
Apa yang kau cari di ceruk ini, kawan?
Bayang-bayangnya, jawabku
sembari menepuk debu-debu
lantas berlalu
Musim Semu
Meski angin takluk pada mentari
hingga turut menderu dalam palsu
menghembus hangat-hangat yang semu
tentang peralihan yang
segera akan kau jelang
Meski ribuan manusia pulau khatulistiwa
turut jejak angin, bergempita
mengusung janji palsu di kotak penuh warna
tentang perubahan yang
takkan lama lagi kan kau cumbu
Aku,
dan hujan,
untukmu
akan selalu setia
memberi pelangi yang sejati
Menggurat warna pada cinta dan kerinduan
yang tak terkira,
yang tak bertepi
Agoni
Kembali dipentaskan opera rintih malam ini
di sisi ruang batin yang mendadak sunyi
setelah dunia terbuai oleh
gelak gelok nan gaduh
Layar-layar dibuka dengan panggung syahdu
Boneka-boneka bertali,
hembus dingin angin ratri,
memulai lakon teriring gemuruh hati dan hujan
“Ah, salahkah
hatiku
yang merasa nyaman
oleh kepastian-kepastian
impian-impian
yang tergurat pada dirimu,
adinda?”
Boneka lelaki itu membuka tanya
Jawaban yang ditunggu,
bukan gonggongan itu,
dari asu yang di punggungnya terjuntai
tali kendali dari akar bunga-bunga
di sampingnya
Boneka lelaki itu membelai mesra
“Aku memilihmu,
sungguh,
aku telah memilihmu,
tak sedikitpun ragu,
apakah aku salah
hingga dunia menertawakan
ketergesaan ini?”
Namun jawaban yang ditunggu,
tak kunjung mencerahkan daun telinga,
hanya gonggongan itu,
dari asu yang di punggungnya terjuntai
tali kendali dari akar bunga-bunga
di sampingnya
“Aku takut
sungguh aku takut
mimpi-mimpi buruk
semakin sering berkunjung
membawa buah tangan
firasat-firasat yang perih
dan agonia
tak berkesudahan”
Boneka lelaki itu kukuh melanjutkan retorika
Dan jawaban yang ditunggu,
bukanlah itu,
bukan derap gerak langkah
penonton yang bosan dan berlalu