nada kesendirian, gemuruh kata kesunyian
Di balik kaca yang retak
permadani hijau terbias kotak-kotak
menyeru pesan damai
pada semesta pagi yang permai
Menembus celah kaca yang sigar
semangat kampung-kampung yang tegar
Nafas keceriaan yang bersahaja
denyut hidup pinggiran rel kereta
Pun pada kaca yang kini kusam
terbayang potret yang buram
manusia-manusia berjiwa kerdil
pelempar batu, pengecut nan usil
Dan di balik kaca yang disergap embun
kulihat persilangan-persilangan kepentingan
Ada yang menang dan mengalahkan
Pun ada yang kalah dan menangguhkan
Ah, usah gelisah
sungguh arus jaman takkan pernah cukup
kurangkum pada kertas kecil
dalam kompartemen mungil
Pun sebentar lagi,
rinduku kan terbayar di kampung halaman
Kemarilah untuk kusentuh
hingga terserak debu-debu
terbawa pilu bayu
Cukup kau mengusikku
Maka musnah
Hilang
dan tak perlu kembali pulang
Ada apa dengan sore dan rintik
Tiap kali ada untuk bersua
rindu mewujud dua jiwa
menyusun dirinya larik demi larik
Ada apa dengan aku
hingga harus membuatmu menanti
untuk lantas mengenangku
dalam wajah hujan sore hari
Ah, sepi sungguh
Mungkin,
dahulu lekat namamu Nawangwulan
sebelum awan-awan beriring berarakan
hingga menutup jalanmu ke langit
kembali ke bulan peraduan
Mungkin,
dahulu engkau peri atau bidadari
dengan segala gemericik gemintang
berpendar perlahan lantas larut
dalam jejak ringan nan lembut
langkah dan sentuhan jemari
Mungkin,
sejatinya tiada kepantasan bagiku
mereguk segala kemewahan rasa
dan kasih itu
Namun pasti,
kini dan nanti,
keindahanmu
telah dititipkan kepadaku
Kan kujaga,
Adinda dewi
Bukan hening yang kucari di putih hamparan ini
Bukan pula bening yang beriak pada biru gradasi
dan terpanggang hangat mentari
Kataku,
pada segala yang mengerubung
Di tepian tanah kapur dudukku
Semilir sepoi segera bersenandung cerita
tentang daun-daun gugur di peluk pohon sembilu pilu
tentang pudar warna semesta,
cinta, bumi, dan manusia
Desir-desirnya bergema
menggulung angan-angan dan lamunku
yang merayap mengejar kedalamannya
hingga terperosok pada licin batu-batu
Maka aku terbangun di puncak hembusan angin
ketika sontak dia menerpa bertanya
Apa yang kau cari di ceruk ini, kawan?
Bayang-bayangnya, jawabku
sembari menepuk debu-debu
lantas berlalu