SolitudeSerenade

nada kesendirian, gemuruh kata kesunyian
Oct 27

October Rain



Ada apa dengan sore dan rintik
Tiap kali ada untuk bersua
rindu mewujud dua jiwa
menyusun dirinya larik demi larik

Ada apa dengan aku
hingga harus membuatmu menanti
untuk lantas mengenangku
dalam wajah hujan sore hari

Ah, sepi sungguh

Aug 03

Fairy



Mungkin,
dahulu lekat namamu Nawangwulan
sebelum awan-awan beriring berarakan
hingga menutup jalanmu ke langit
kembali ke bulan peraduan

Mungkin,
dahulu engkau peri atau bidadari
dengan segala gemericik gemintang
berpendar perlahan lantas larut
dalam jejak ringan nan lembut
langkah dan sentuhan jemari

Mungkin,
sejatinya tiada kepantasan bagiku
mereguk segala kemewahan rasa
dan kasih itu

Namun pasti,
kini dan nanti,
keindahanmu
telah dititipkan kepadaku

Kan kujaga,
Adinda dewi

Jul 09

Ciwidey



Bukan hening yang kucari di putih hamparan ini
Bukan pula bening yang beriak pada biru gradasi
dan terpanggang hangat mentari

Kataku,
pada segala yang mengerubung

Di tepian tanah kapur dudukku
Semilir sepoi segera bersenandung cerita
tentang daun-daun gugur di peluk pohon sembilu pilu
tentang pudar warna semesta,
cinta, bumi, dan manusia

Desir-desirnya bergema
menggulung angan-angan dan lamunku
yang merayap mengejar kedalamannya
hingga terperosok pada licin batu-batu

Maka aku terbangun di puncak hembusan angin
ketika sontak dia menerpa bertanya

Apa yang kau cari di ceruk ini, kawan?

Bayang-bayangnya, jawabku
sembari menepuk debu-debu
lantas berlalu

Jun 24

Musim Semu



Meski angin takluk pada mentari
hingga turut menderu dalam palsu
menghembus hangat-hangat yang semu
tentang peralihan yang
segera akan kau jelang

Meski ribuan manusia pulau khatulistiwa
turut jejak angin, bergempita
mengusung janji palsu di kotak penuh warna
tentang perubahan yang
takkan lama lagi kan kau cumbu

Aku,
dan hujan,
untukmu
akan selalu setia
memberi pelangi yang sejati

Menggurat warna pada cinta dan kerinduan
yang tak terkira,
yang tak bertepi

May 11

Agoni



Kembali dipentaskan opera rintih malam ini
di sisi ruang batin yang mendadak sunyi
setelah dunia terbuai oleh
gelak gelok nan gaduh

Layar-layar dibuka dengan panggung syahdu
Boneka-boneka bertali,
hembus dingin angin ratri,
memulai lakon teriring gemuruh hati dan hujan

“Ah, salahkah
hatiku
yang merasa nyaman
oleh kepastian-kepastian
impian-impian
yang tergurat pada dirimu,
adinda?”

Boneka lelaki itu membuka tanya

Jawaban yang ditunggu,
bukan gonggongan itu,
dari asu yang di punggungnya terjuntai
tali kendali dari akar bunga-bunga
di sampingnya

Boneka lelaki itu membelai mesra

“Aku memilihmu,
sungguh,
aku telah memilihmu,
tak sedikitpun ragu,
apakah aku salah
hingga dunia menertawakan
ketergesaan ini?”

Namun jawaban yang ditunggu,
tak kunjung mencerahkan daun telinga,
hanya gonggongan itu,
dari asu yang di punggungnya terjuntai
tali kendali dari akar bunga-bunga
di sampingnya

“Aku takut
sungguh aku takut
mimpi-mimpi buruk
semakin sering berkunjung
membawa buah tangan
firasat-firasat yang perih
dan agonia
tak berkesudahan”

Boneka lelaki itu kukuh melanjutkan retorika

Dan jawaban yang ditunggu,
bukanlah itu,
bukan derap gerak langkah
penonton yang bosan dan berlalu